Infoglobalmedia.com – Indramayu, Program Percepatan Peningkatan Tata Guna Air Irigasi (P3GAI) yang digulirkan pemerintah untuk memperbaiki sistem irigasi di sejumlah wilayah, termasuk Kecamatan Sindang, Kabupaten Indramayu, justru menjadi perhatian publik. Bukan karena keberhasilannya, melainkan karena dugaan pelaksanaan yang jauh dari kata maksimal.
Ketua Persatuan Pewarta Warga Indonesia (PPWI) DPC Kabupaten Indramayu, A. Warjani, secara terbuka menyoroti kondisi di lapangan. Menurutnya, proyek yang sejatinya bertujuan meningkatkan tata kelola air irigasi bagi petani ini diduga dikerjakan secara asal-asalan. Hasilnya pun dipertanyakan, baik dari sisi kualitas maupun ketahanan struktur yang dibangun.


“Programnya bagus, niatnya jelas untuk membantu petani. Tapi pelaksana di lapangan amburadul. Ini jelas akibat minimnya pengawasan dari stakeholder terkait,” tegas Warjani saat diwawancarai, Jumat (18/9/2026).


Pernyataan itu tidak muncul begitu saja. Warjani merujuk pada temuan dan informasi yang beredar di kalangan warga serta pelaku lapangan. Salah satu pelaksana proyek bahkan sempat memberikan keterangan dalam bahasa Indramayu yang cukup mencolok: “Kuen mah emang dau ditempel, emang durung ngadeg.” Artinya, struktur tersebut memang baru ditempel dan belum berdiri secara solid.


Bagi Warjani, jawaban semacam itu justru mempertegas dugaan bahwa pekerjaan dilakukan tanpa standar profesional yang memadai. Ia menilai, jika pengawasan dari instansi terkait berjalan ketat, seharusnya tidak ada ruang bagi hasil yang setengah-setengah. Apalagi proyek irigasi menyangkut kepentingan jangka panjang petani, yang bergantung pada kelancaran distribusi air untuk lahan pertanian mereka.


Indramayu dikenal sebagai salah satu lumbung padi di Jawa Barat. Sistem irigasi yang baik menjadi urat nadi produktivitas pertanian di wilayah ini. Ketika program seperti P3GAI hadir dengan janji perbaikan, harapan petani otomatis terangkat. Namun, jika pelaksanaan di lapangan tidak sesuai standar, yang terjadi justru sebaliknya: dana digelontorkan, pekerjaan diklaim selesai, tetapi manfaat nyata bagi petani belum terasa.


Warjani menekankan pentingnya peran pengawasan yang serius. Bukan sekadar formalitas di atas kertas, melainkan kehadiran langsung di lokasi, pengecekan berkala, serta sanksi tegas jika ditemukan pelanggaran. Tanpa itu, program-program strategis seperti P3GAI berisiko hanya menjadi proyek administratif yang kehilangan substansi.
“Kami berharap instansi terkait segera meningkatkan pengawasan di lapangan. Jangan sampai tujuan mulia program ini gagal tercapai hanya karena pelaksana yang kurang profesional,” ujarnya.
Hingga saat ini, pihak terkait belum memberikan tanggapan resmi terkait sorotan tersebut. membuka ruang hak jawab seluas-luasnya bagi pelaksana proyek maupun instansi berwenang untuk memberikan penjelasan, demi menjaga keberimbangan informasi.

By Adm1n

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *